Samsung secara resmi meluncurkan dua smartphone Android dengan
ukuran layar jumbo, lebih besar dari saudaranya, Galaxy Note II. Ponsel
pintar berukuran besar ini akan hadir di pasaran dengan nama Galaxy
Mega.
Layar dari perangkat Galaxy Mega ini dapat dikatakan
jumbo karena memiliki ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan
smartphone pada umumnya. Seri pertama dari Galaxy Mega memiliki ukuran
5,8 inci, sedangkan seri kedua hadir dengan layar yang lebih besar lagi,
yaitu 6,3 inci.
Namun, berbeda dari Galaxy Note II yang
menggunakan spesifikasi kelas atas, Samsung hanya mempersenjatai Galaxy
Mega dengan spesifikasi mid-range saja. Mungkin, keputusan ini diambil untuk menjaga harga dari kedua perangkat ini.
Dikutip dari Engadget,
Jumat (12/4/2013), Samsung Galaxy Mega 6.3 hadir dengan layar yang
mendukung resolusi 1280 x 720 piksel. Seri yang satu ini sudah
dipersenjatai dengan prosesor 1,7GHz dual-core, kamera belakang 8 megapiksel, dan sistem operasi Android 4.2 (Jelly Bean).
Produk ini juga sudah mendukung jaringan LTE 4G dan HSPA, sudah
dilengkapi dengan GPS, dan baterai berkapasitas 3,200mAh. Ada dua
pilihan kapasitas penyimpanan internal dari seri tersebut, yaitu 8 atau
16GB. Namun, kapasitas tersebut masih bisa ditingkatkan dengan
menggunakan kartu microSD hingga 64GB.
Belum ada konfirmasi
harga dari Samsung mengenai Galaxy Mega 6.3. Walaupun ada di rentang
layar antara Galaxy Note II dan Galaxy Note 8.0, banyak yang
memperkirakan bahwa produk ini tidak akan semahal kedua saudara tuanya
itu.
Samsung Galaxy Mega 5.8 memiliki spesifikasi sedikit lebih
di bawah Galaxy Mega 6.3. Produk tersebut menggunakan layar yang
mendukung resolusi qHD 960 x 540 piksel, prosesor 1,4GHz dual-core, dan kamera belakang 8 megapiksel.
Berbeda dari Galaxy Mega 6.3, Galaxy Mega 5.8 tidak didukung dengan
koneksi jaringan LTE. Kecepatan maksimalnya hanya HSPA. Pilihan
kapasitasnya pun hanya satu, yaitu 8GB saja.
Harga dari seri yang satu ini pun masih menjadi misteri.
Adit On Tekno
Rabu, 24 April 2013
Selasa, 23 April 2013
Motorola Siapkan Android "Lawan Arus"
Tren layar smartphone bergerak ke arah ukuran
yang semakin membesar. Tengok saja Galaxy Mega dari Samsung yang
memiliki ukuran layar super besar, mencapai 5,8 inci. Produsen-produsen
lain pun tak ketinggalan menelurkan perangkat berukuran jumbo.
Biarpun begitu, rupanya tak semua pemain di industri ini rela tunduk pada tren tersebut. Contohya Motorola yang terang-terang menyatakan diri bakal melawan arus. Caranya dengan tidak membuat perangkat yang "lebih besar", melainkan "lebih baik".
"Ada orang yang suka layar besar, tapi banyak juga yang ingin smartphone yang 'pas'. Saya pikir 'pas' di sini penting, makanya kami merancang ponsel agar tidak mengecewakan orang-orang tersebut," ujar kepada desain Motorola Jim Wicks, seperti dikutip PC Magazine.
Motorola adalah produsen ponsel yang diakuisisi Google bulan Mei tahun 2012 lalu. Setelah merilis lini smartphone Razr berbasis Android, pabrikan ini sekarang sedang merancang ponsel pintar baru di bawah "bimbingan" Google.
Kabarnya pula, smartphone Nexus seri berikutnya dari Google bakal dibikin oleh Motorola.
Nah, supaya ukuran layarnya tetap memuaskan, Motorola berusaha meminimalisir ukuran bezel (bingkai) di sekeliling layar. Tujuannya supaya layar bisa terlihat besar meskipun perangkatnya berukuran kecil. "Ibaratnya TV saja, pasti Anda tak mau menonton frame-nya," imbuh Wicks.
Bukan cuma meminimalisir ukuran, Motorola juga berusaha melawan arus lewat penerapan beberapa hal lain, termasuk meminimalisir jumlah bloatware (software pre-installed) dan menghindari "perang spesifikasi hardware".
"Kami percaya caranya adalah dengan lebih memikirkan konsumen, bukannya spesifikasi. Menggembar-gemborkan spesifikasi itu cara gampangnya, saya pikir itu bukan jawaban," tukas Wicks.
Seperti apakah smartphone "ideal" ala Motorola ini nanti? Mari kita tunggu kemunculannya.
Biarpun begitu, rupanya tak semua pemain di industri ini rela tunduk pada tren tersebut. Contohya Motorola yang terang-terang menyatakan diri bakal melawan arus. Caranya dengan tidak membuat perangkat yang "lebih besar", melainkan "lebih baik".
"Ada orang yang suka layar besar, tapi banyak juga yang ingin smartphone yang 'pas'. Saya pikir 'pas' di sini penting, makanya kami merancang ponsel agar tidak mengecewakan orang-orang tersebut," ujar kepada desain Motorola Jim Wicks, seperti dikutip PC Magazine.
Motorola adalah produsen ponsel yang diakuisisi Google bulan Mei tahun 2012 lalu. Setelah merilis lini smartphone Razr berbasis Android, pabrikan ini sekarang sedang merancang ponsel pintar baru di bawah "bimbingan" Google.
Kabarnya pula, smartphone Nexus seri berikutnya dari Google bakal dibikin oleh Motorola.
Nah, supaya ukuran layarnya tetap memuaskan, Motorola berusaha meminimalisir ukuran bezel (bingkai) di sekeliling layar. Tujuannya supaya layar bisa terlihat besar meskipun perangkatnya berukuran kecil. "Ibaratnya TV saja, pasti Anda tak mau menonton frame-nya," imbuh Wicks.
Bukan cuma meminimalisir ukuran, Motorola juga berusaha melawan arus lewat penerapan beberapa hal lain, termasuk meminimalisir jumlah bloatware (software pre-installed) dan menghindari "perang spesifikasi hardware".
"Kami percaya caranya adalah dengan lebih memikirkan konsumen, bukannya spesifikasi. Menggembar-gemborkan spesifikasi itu cara gampangnya, saya pikir itu bukan jawaban," tukas Wicks.
Seperti apakah smartphone "ideal" ala Motorola ini nanti? Mari kita tunggu kemunculannya.
Senin, 22 April 2013
4 Hari, Penjualan Windows 8 Tembus 4 Juta Unit
Microsoft secara resmi telah meluncurkan sistem operasi terbaru Windows
8 pada tanggal 26 Oktober 2012 lalu. Sejak tanggal peluncuran itu,
Microsoft sudah berhasil menjual Windows 8 sebanyak empat juta unit.
"Dalam empat hari dari tanggal 26 Oktober lalu, Windows 8 sudah terjual sebanyak 4 juta copy,” kata Presiden Direktur PT Microsoft Indonesia Andreas Diantoro di Jakarta, Rabu (31/10/2012).
Seperti dikutip dari Kontan, Andreas mengungkapkan, tujuh hingga sepuluh vendor perangkat komputer sudah menggunakan Windows 8. Vendor-vendor tersebut adalah Asus, Hewlett Packard (HP), Dell, Lenovo, Sony, Samsung, dan Toshiba.
Sedangkan, lanjut Andreas, sebagian vendor-vendor lokal juga sudah menggunakan Windows 8 untuk produknya, seperti Axioo dan Zyrex. "Semua mendukung terjadinya peralihan dari Windows 7 ke Windows 8," terang Andreas.
Windows 8 Pro dalam bentuk DVD sudah hadir di seluruh Indonesia dan dapat dibeli dengan harga 69,99 dollar AS (sekitar Rp 650.000). Harga ini untuk yang akan melakukan upgrade dari Windows lama (Windows XP, Vista, dan Windows 7).
Untuk upgrade dengan cara online, konsumen yang saat ini menjalankan PC dengan Windows XP, Windows Vista, atau Windows 7 berhak untuk mengunduh Windows 8 Pro dengan harga 39,99 dollar AS. Penawaran ini berlaku sampai dengan akhir Januari 2013.
Sedangkan konsumen pengguna yang perangkat dengan Windows 7-nya dibeli antara 2 Juni 2012 dan 31 Januari 2013 bisa mengunduh Windows 8 Pro dengan harga 14,99 dollar AS.
"Dalam empat hari dari tanggal 26 Oktober lalu, Windows 8 sudah terjual sebanyak 4 juta copy,” kata Presiden Direktur PT Microsoft Indonesia Andreas Diantoro di Jakarta, Rabu (31/10/2012).
Seperti dikutip dari Kontan, Andreas mengungkapkan, tujuh hingga sepuluh vendor perangkat komputer sudah menggunakan Windows 8. Vendor-vendor tersebut adalah Asus, Hewlett Packard (HP), Dell, Lenovo, Sony, Samsung, dan Toshiba.
Sedangkan, lanjut Andreas, sebagian vendor-vendor lokal juga sudah menggunakan Windows 8 untuk produknya, seperti Axioo dan Zyrex. "Semua mendukung terjadinya peralihan dari Windows 7 ke Windows 8," terang Andreas.
Windows 8 Pro dalam bentuk DVD sudah hadir di seluruh Indonesia dan dapat dibeli dengan harga 69,99 dollar AS (sekitar Rp 650.000). Harga ini untuk yang akan melakukan upgrade dari Windows lama (Windows XP, Vista, dan Windows 7).
Untuk upgrade dengan cara online, konsumen yang saat ini menjalankan PC dengan Windows XP, Windows Vista, atau Windows 7 berhak untuk mengunduh Windows 8 Pro dengan harga 39,99 dollar AS. Penawaran ini berlaku sampai dengan akhir Januari 2013.
Sedangkan konsumen pengguna yang perangkat dengan Windows 7-nya dibeli antara 2 Juni 2012 dan 31 Januari 2013 bisa mengunduh Windows 8 Pro dengan harga 14,99 dollar AS.
Minggu, 21 April 2013
Steven Sinofsky, Otak di Balik Windows 8
Perusahaan peranti lunak Microsoft resmi merilis sistem operasi
terbarunya, Windows 8, pada 26 Oktober 2012. Terjadi banyak perubahan di
Windows 8, mulai dari tampilan hingga kehadiran toko aplikasi online.
Tahukah Anda siapa otak di balik perubahan besar itu? Dia adalah Steven Sinofsky.
Sinofsky bergabung di Microsoft sejak Juli 1989 sebagai pemrogram. Sejak 2009 hingga sekarang, ia menjabat sebagai Presiden Divisi Windows dan Windows Live Microsoft. Jika Windows 8 sukses, Sinofsky dianggap sebagai tokoh berpengaruh dalam industri teknologi dan ada potensi ia akan menduduki posisi CEO di Microsoft jika kelak Steve Ballmer pensiun.
Namun, seandainya Windows 8 gagal, skenario di atas tak akan terjadi. Sebaliknya, Microsoft akan banyak kehilangan pangsa pasar yang direbut oleh Apple dan Google. Sebab, seperti diketahui, Windows 8 tak hanya berjalan di komputer pribadi (personal computer/PC), tetapi juga di perangkat tablet. Ini berarti Windows 8 akan bersaing dengan sistem operasi Android, iOS, dan Mac OS.
Windows bisa disebut sebagai jantungnya Microsoft karena produk inilah yang membesarkan nama Microsoft. Demikian pula dengan peranti lunak perkantoran Microsoft Office.
Sebelum dipercaya menangani produk Windows, Sinofsky punya pengalaman panjang mengembangkan Office. Sejak Unit Produk Office dibuka pada 1994, Sinofsky bertanggung jawab sebagai direktur manajemen program dan memimpin desain teknologi untuk Microsoft Office 95, Microsoft Office 97, Microsoft Office 2000, hingga Microsoft Office 2003.
Ia juga bertanggung jawab dalam hal pengembangan Microsoft Office 2007, yang berhasil meraih sukses di pasar global. Produk ini terbilang revolusioner karena mengusung tampilan antarmuka pita baru (ribbon user interface) dan menyediakan format penyimpanan file yang lebih efisien (.docx, .pptx, .xlsx, dan sebagainya).
Memimpin Divisi Windows dan Windows Live
Sejak 2009, Sinofsky mulai memimpin Divisi Windows dan Windows Live, yang pada awalnya ia mengembangkan produk Windows Live Wave 3 dan Internet Explorer 8. Bersama petinggi Microsoft lainnya, Jon DeVaan, Sinofsky mengepalai pengembangan Windows Vista, yang kemudian dinilai kurang sukses di pasaran.
Sinofsky lantas membayarnya dengan menghadirkan Windows 7 pada 2009. Produk ini sukses dan banyak dipuji oleh penggunanya. Keberhasilan Windows 7 memberi kontribusi besar terhadap pendapatan Microsoft pada 2010.
Menurut survei yang dilakukan lembaga riset StatCounter pada periode Juni 2011 sampai Juni 2012, Windows 7 berhasil meraup sebagian besar pasar sistem operasi di dunia dengan 50,2 persen. Posisi kedua ditempati Windows XP sebesar 29 persen, lalu diikuti Windows Vista, dan Mac OS dari Apple.
Sinofsky menerima gelar sarjana sains di Universitas Cornell pada 1987 dan gelar master ilmu komputer Universitas Massachusetts Amherst pada 1989. Pria kelahiran 1965 ini punya gaya berpakaian yang khas. Ia sering terlihat mengenakan sweater dengan kerah model "V", dan kaus di dalamnya.
Ia dan Jon DeVaan juga dikenal sebagai editor untuk blog resmi Engineering Windows. Selain Windows, saat ini Sinofsky juga mengawasi pengembangan layanan surat elektronik Outlook.com dan media penyimpanan data di awan SkyDrive.
Tahukah Anda siapa otak di balik perubahan besar itu? Dia adalah Steven Sinofsky.
Sinofsky bergabung di Microsoft sejak Juli 1989 sebagai pemrogram. Sejak 2009 hingga sekarang, ia menjabat sebagai Presiden Divisi Windows dan Windows Live Microsoft. Jika Windows 8 sukses, Sinofsky dianggap sebagai tokoh berpengaruh dalam industri teknologi dan ada potensi ia akan menduduki posisi CEO di Microsoft jika kelak Steve Ballmer pensiun.
Namun, seandainya Windows 8 gagal, skenario di atas tak akan terjadi. Sebaliknya, Microsoft akan banyak kehilangan pangsa pasar yang direbut oleh Apple dan Google. Sebab, seperti diketahui, Windows 8 tak hanya berjalan di komputer pribadi (personal computer/PC), tetapi juga di perangkat tablet. Ini berarti Windows 8 akan bersaing dengan sistem operasi Android, iOS, dan Mac OS.
Windows bisa disebut sebagai jantungnya Microsoft karena produk inilah yang membesarkan nama Microsoft. Demikian pula dengan peranti lunak perkantoran Microsoft Office.
Sebelum dipercaya menangani produk Windows, Sinofsky punya pengalaman panjang mengembangkan Office. Sejak Unit Produk Office dibuka pada 1994, Sinofsky bertanggung jawab sebagai direktur manajemen program dan memimpin desain teknologi untuk Microsoft Office 95, Microsoft Office 97, Microsoft Office 2000, hingga Microsoft Office 2003.
Ia juga bertanggung jawab dalam hal pengembangan Microsoft Office 2007, yang berhasil meraih sukses di pasar global. Produk ini terbilang revolusioner karena mengusung tampilan antarmuka pita baru (ribbon user interface) dan menyediakan format penyimpanan file yang lebih efisien (.docx, .pptx, .xlsx, dan sebagainya).
Memimpin Divisi Windows dan Windows Live
Sejak 2009, Sinofsky mulai memimpin Divisi Windows dan Windows Live, yang pada awalnya ia mengembangkan produk Windows Live Wave 3 dan Internet Explorer 8. Bersama petinggi Microsoft lainnya, Jon DeVaan, Sinofsky mengepalai pengembangan Windows Vista, yang kemudian dinilai kurang sukses di pasaran.
Sinofsky lantas membayarnya dengan menghadirkan Windows 7 pada 2009. Produk ini sukses dan banyak dipuji oleh penggunanya. Keberhasilan Windows 7 memberi kontribusi besar terhadap pendapatan Microsoft pada 2010.
Menurut survei yang dilakukan lembaga riset StatCounter pada periode Juni 2011 sampai Juni 2012, Windows 7 berhasil meraup sebagian besar pasar sistem operasi di dunia dengan 50,2 persen. Posisi kedua ditempati Windows XP sebesar 29 persen, lalu diikuti Windows Vista, dan Mac OS dari Apple.
Sinofsky menerima gelar sarjana sains di Universitas Cornell pada 1987 dan gelar master ilmu komputer Universitas Massachusetts Amherst pada 1989. Pria kelahiran 1965 ini punya gaya berpakaian yang khas. Ia sering terlihat mengenakan sweater dengan kerah model "V", dan kaus di dalamnya.
Ia dan Jon DeVaan juga dikenal sebagai editor untuk blog resmi Engineering Windows. Selain Windows, saat ini Sinofsky juga mengawasi pengembangan layanan surat elektronik Outlook.com dan media penyimpanan data di awan SkyDrive.
Sabtu, 20 April 2013
Microsoft Ditinggal Perancang Windows 8
Steven Sinofsky, orang yang selama ini bertanggung jawab atas
pengembangan produk-produk andalan Microsoft, mengundurkan diri dari
perusahaan perangkat lunak raksasa itu, Senin (12/11/2012).
Ia merupakan otak di balik pengembangan sistem operasi Windows 8 dan dahulu memimpin divisi software perkantoran Office.
Dalam siaran pers dari Microsoft, Sinofsky menyatakan kekagumannya kepada seluruh karyawan Microsoft. "Tak mungkin menghitung berkat yang telah saya terima selama bertahun-tahun bekerja di Microsoft. Saya kagum dengan profesionalisme dan kemurahan hati semua orang yang bekerja di perusahaan yang amat mengagumkan ini," ujar Sinofsky.
Sementara itu, CEO Microsoft Steve Ballmer berterima kasih kepada Sinofsky karena telah memberi begitu banyak kontribusi untuk perusahaan.
Selanjutnya, posisi Sinofsky akan diganti oleh dua orang sekaligus. Julie Larson-Green akan dipromosikan memimpin pengembangan rekayasa perangkat lunak dan perangkat keras Microsoft. Sementara Tami Reller menjabat sebagai kepala pejabat finansial dan kepala pejabat pemasaran.
Sinofsky bergabung di Microsoft sejak Juli 1989 sebagai pemrogram perangkat lunak. Sejak 2009 hingga mengundurkan diri, Sinofsky menjabat sebagai Presiden Divisi Windows dan Windows Live Microsoft. Ia bertanggung jawab atas produk Windows Live, Internet Explorer, dan Windows.
Sebelum dipercaya menangani produk Windows, Sinofsky punya pengalaman panjang mengembangkan Office. Sejak Unit Produk Office dibuka pada 1994, Sinofsky bertanggung jawab sebagai direktur manajemen program dan memimpin desain teknologi untuk Microsoft Office 95, Microsoft Office 97, Microsoft Office 2000, hingga Microsoft Office 2003.
Ia juga bertanggung jawab dalam hal pengembangan Microsoft Office 2007, yang berhasil meraih sukses di pasar global. Produk ini terbilang revolusioner karena mengusung tampilan antarmuka pita baru (ribbon user interface) dan menyediakan format penyimpanan file yang lebih efisien (.docx, .pptx, .xlsx, dan lainnya).
Sinofsky menerima gelar sarjana sains di Universitas Cornell pada 1987 dan gelar master ilmu komputer Universitas Massachusetts Amherst pada 1989. Pria kelahiran 1965 ini punya gaya berpakaian yang khas. Ia sering terlihat mengenakan sweater dengan kerah model "V" dan kaus di dalamnya.
Ia merupakan otak di balik pengembangan sistem operasi Windows 8 dan dahulu memimpin divisi software perkantoran Office.
Dalam siaran pers dari Microsoft, Sinofsky menyatakan kekagumannya kepada seluruh karyawan Microsoft. "Tak mungkin menghitung berkat yang telah saya terima selama bertahun-tahun bekerja di Microsoft. Saya kagum dengan profesionalisme dan kemurahan hati semua orang yang bekerja di perusahaan yang amat mengagumkan ini," ujar Sinofsky.
Sementara itu, CEO Microsoft Steve Ballmer berterima kasih kepada Sinofsky karena telah memberi begitu banyak kontribusi untuk perusahaan.
Selanjutnya, posisi Sinofsky akan diganti oleh dua orang sekaligus. Julie Larson-Green akan dipromosikan memimpin pengembangan rekayasa perangkat lunak dan perangkat keras Microsoft. Sementara Tami Reller menjabat sebagai kepala pejabat finansial dan kepala pejabat pemasaran.
Sinofsky bergabung di Microsoft sejak Juli 1989 sebagai pemrogram perangkat lunak. Sejak 2009 hingga mengundurkan diri, Sinofsky menjabat sebagai Presiden Divisi Windows dan Windows Live Microsoft. Ia bertanggung jawab atas produk Windows Live, Internet Explorer, dan Windows.
Sebelum dipercaya menangani produk Windows, Sinofsky punya pengalaman panjang mengembangkan Office. Sejak Unit Produk Office dibuka pada 1994, Sinofsky bertanggung jawab sebagai direktur manajemen program dan memimpin desain teknologi untuk Microsoft Office 95, Microsoft Office 97, Microsoft Office 2000, hingga Microsoft Office 2003.
Ia juga bertanggung jawab dalam hal pengembangan Microsoft Office 2007, yang berhasil meraih sukses di pasar global. Produk ini terbilang revolusioner karena mengusung tampilan antarmuka pita baru (ribbon user interface) dan menyediakan format penyimpanan file yang lebih efisien (.docx, .pptx, .xlsx, dan lainnya).
Sinofsky menerima gelar sarjana sains di Universitas Cornell pada 1987 dan gelar master ilmu komputer Universitas Massachusetts Amherst pada 1989. Pria kelahiran 1965 ini punya gaya berpakaian yang khas. Ia sering terlihat mengenakan sweater dengan kerah model "V" dan kaus di dalamnya.
Langganan:
Komentar (Atom)